Skip to content

Logam Alkali dan Alkali Tanah

Januari 1, 2012

BAB 1

PENDAHULUAN

 

  1. Logam Alkali

 

Logam alkali adalah kelompok unsur-unsur yang berada di golongan I A pada tabel periodik unsur, yaitu Litium (Li), Natrium (Na), Kalium (K), Rubidium (Rb), Cesium (Cs), dan Fransium (Fr).

Logam pada golongan I A disebut sebagai logam alkali disebabkan oksida-oksida logam pada golongan tersebut cepat larut dalam air dan menghasilkan larutan yang bersifat basa kuat (alkali).

Logam alkali mempunyai konfigurasi elektron np6 (n+1)s1. Konfigurasi electron ini berlaku untuk semua logam alkali kecuali Litium (Li). Terdapat pengecualian pada Litium karena sesuai dengan nomor atom Litium, hanya ada 3 elektron yang mengelilingi inti atomnya, sehingga hanya mengisi subkulit s. Untuk lebih jelasnya, perhatikan perbandingan konfigurasi Litium dengan Natrium berikut ini:

3Li     : 1s2 2s1

11Na  : 1s2 2s2 2p6 3s1  (memenuhi rumus np6 (n+1)s1).

Dari konfigurasi elektron logam alkali juga dapat dilihat bahwa logam alkali hanya memiliki 1 elektron pada kulit terluarnya atau dikatakan mempunyai valensi 1. Layaknya unsur-unsur logam lainnya, logam alkali juga cenderung melepaskan electron pada kulit terluarnya (bersifat elektropositif)  sehingga membentuk ion bermuatan +1 atau dapat juga dikatakan bertindak sebagai kation.

Sifat fisika dan sifat kimia unsur logam alkali hampir sama, kekuatannya bertambah secara periodik dari atas ke bawah sesuai dengan konfigurasi elektronnya.

 

 

  1. Logam Alkali Tanah

Logam alkali tanah terdiri dari 6 unsur yang terdapat di golongan IIA. Yang termasuk ke dalam golongan II A yaitu: Berilium (Be), Magnesium (Mg), Calcium (Ca), Stronsium (Sr), Barium (Ba),  dan Radium (Ra). Di sebut logam karena memiliki sifat-sifat seperti logam. Disebut alkali karena mempunyai sifat alkalin jika direaksikan dengan air. Dan istilah tanah karena oksidasinya sukar larut dalam air, dan banyak ditemukan dalam bebatuan di kerak bumi. Oleh sebab itu, istilah “alkali tanah” biasa digunakan untuk menggambarkan kelompok unsur golongan II A.

Tiap logam memiliki konfigurasi elektron sama seperti gas mulia atau golongan VIII A, setelah di tambah 2 elektron pada lapisan kulit S paling luar. Contohnya konfigurasi elektron pada Magnesium (Mg) yaitu : 1s22s22p63s2 atau (Ne) 3s2. Ikatan yang dimiliki kebanyakan senyawa logam alkali tanah adalah ikatan ionik. Karena, elektron paling luarnya telah siap untuk di lepaskan, agar mencapai kestabilan.

Unsur alkali tanah memiliki reaktifitas tinggi, sehingga tidak ditemukan dalam bentuk monoatomik , unsur ini mudah bereaksi dengan oksigen, dan logam murni yang ada di udara, membentuk lapisan luar pada oksigen

 

BAB 2

SIFAT FISIKA DAN SIFAT KIMIA

 

  1. A.   Sifat Fisika Logam Alkali
    1. Elektronegativitas

Pada golongan logam alkali, dari atas ke bawah dalam sistem periodik, elektronegativitas semakin berkurang. Hal ini disebabkan ukuran atom (jari-jari atom) makin besar sehingga electron valensi menjauh dari inti logam. Akibatnya kurang tertarik ke inti logam. Walaupun dari atas ke bawah muatan inti bertambah, tetapi pengaruh pertambahan muatan inti ini kalah oleh pengaruh pertambahan ukuran atom.

  1. Bersifat lunak

Logam alkali hanya mempunyai satu elektron valensi yang terlibat dalam pembentukan logam, oleh karena itu logam alkali memiliki energi kohesi yang kecil sehingga bersifat lunak. Dalam sistem periodik, dari atas ke bawah pada golongan I A makin kecil energi kohesinya sehingga semakin lunak.

  1. Titik leleh dan titik didih

Pada golongan logam alkali, dari atas ke bawah dalam sistem periodik, titik didih dan titik leleh mengalami penurunan (lebih mudah meleleh dan menguap). Sifat ini merupakan pengaruh dari ukuran atom yang semakin besar sehingga kekuatan ikatan logam semakin lemah, sehingga atom-atom lebih mudah terpisah dan membentuk wujud cair dan akhirnya gas.

 

  1. Mempunyai kilap dan penghantar listrik dan panas yang baik

Unsur-unsur golongan I A memiliki ciri khusus logam yaitu mempunyai kilap, dan merupakan penghantar listrik dan panas yang baik. Kilap disebabkan elektron logam alkali apabila terkena energi (dalam hal ini energi cahaya) akan berpindah ke tingkat energi yang lebih tinggi (terkesitasi) kemudian akan kembali ke keadaan dasar sambil memancarkan energy cahaya. Sifat penghantar listrik dan panas disebabkan oleh atom-atom logam alkali membentuk ikatan logam sehingga electron valensinya bergerak mobile dan dapat menghantarkan listrik maupun panas.

  1. Energi ionisasi

Jari-jari atom pada golongan logam alkali atas ke bawah sistem periodik, jari-jarinya semakin besar, sesuai dengan pertambahan jumlah kulitnya. Semakin banyak jumlah kulitnya, maka semakin besar jari-jari atomnya. Semakin besar jari-jari atom, maka daya tarik antara proton dan elektron terluarnya semakin kecil. Sehingga energi ionisasinya pun semakin kecil.

  1. Spektrum emisi

Spektrum emisi dihasilkan dari pembakaran garamnya pada nyala api bunsen. Jika garam logam alkali diberi energi (dipanaskan), elektronnya akan berpindah ke tingkat energi yang lebih tinggi kemudaian kembali ke keadaan dasar sambil melepaskan energi cahaya. Pada logam alkali, energi cahaya yang dilepaskan atom berada dalam spektrum sinar tampak sehingga memiliki warna yang jelas. Sebagai contoh, ion Na+ akan memberikan nyala berwarna kuning, ion K+ akan memberikan nyala berwarna violet/lembayung. Sifat ini menjadi dasar analisis secara flamefotometri karena intensitas energi cahaya yang dipancarkan, akan berbanding lurus dengan jumlah atom.

 

 

Berikut adalah tabel sifat-sifat fisika logam alkali:

  Titik Leleh (0C) Titik Didih (0C) Energi ionisasi (Kj/mol) Jari-jari ion Konfigurasi elektron Keelektronegatifan Kerapatan (g/cm3)
Li 180.5 1347 520.5 0.60 2.1 1.0 0.534
Na 97.7 883 495.8 0.95 2.8.1 0.9 0.971
K 63.3 759 418.8 1.33 2.8.8.1 0.8 0.862
Rb 39.33 688 403 1.48 2.8.18.8.1 0.8 1.532
Cs 28.4 671 375.7 1.69 2.8.18.18.8.1 0.7 1.873

 

 

B.   Sifat Kimia Logam Alkali

 

Unsur-unsur pada golongan I A atau logam-logam alkali bersifat sangat reaktif. Selain disebabkan oleh jumlah elektron valensi yang hanya satu dan ukuran jari-jari atom yang besar, sifat ini juga disebabkan oleh harga energi ionisasinya yang lebih kecil dibandingkan logam golongan lain. Dari atas ke bawah pada sistem periodik, harga energi ionisai semakin kecil sehingga logamnya semakin reaktif. Di udara pun unsur-unsur ini akan bereaksi dengan oksigen atau air. Oleh karena itu biasanya disimpan dalam wadah tertutup berisi minyak tanah atau hidrokarbon inert. Unsur-unsur logam alkali merupakan reduktor yang kuat. Litium merupakan reduktor terkuat (potensial elektrodanya -3.05 v), sedangkan Natrium paling lemah (-2.7 v).

 

 

  1. Reaksi dengan air

Semua logam dari golongan I A bereaksi hebat dengan air dingin, bahkan menimbulkan ledakan dengan air menghasilkan larutan logam hidroksida dan gas hidrogen. Secara umum, reaksi logam alkali dengan air dapat dituliskan sebagai berikut:

2 M(s) + 2 H2O(l) 2 MOH(aq) + H­2(g)

(M = Li/Na/K/Rb/Cs)

 

Reaksi dari atas ke bawah dalam sistem periodik, reaksi berlangsung lebih cepat. Hal ini disebabkan karena dari atas ke bawah dalam unsur periodik, energi ionisasi semakin rendah  dan ikatan logamnya pun semakin lemah.

Litium mempunyai berat jenis sebesar 0.534 g/cm3 atau hanya setengah dari berat jenis air sehingga Litium mengapung pada permukaan air dan secara perlahan-lahan menghasilkan gas Hidrogen. Logam ini berangsur-angsur bereaksi dan membentuk suatu larutan tak berwarna LiOH. Reaksi terjadi secara eksoterm (melepaskan panas) Litium tidak melebur karena panas tersebut karena titik leleh Litium mencapai 180.5oC.

Natrium mengapung pada permukaan air, tapi  panas yang dihasilkan pada reaksi cukup untuk meleburkan Natrium karena titik leleh Natrium adalah pada 97.7oC, selain itu reaksi antara Natrium dan air menghasilkan panas lebih cepat disbanding reaksi Litium dengan air. Natrium melebur sekaligus membentuk sebuah bulatan perak kecil yang tersebar di atas permukaan yang akhirnya membentuk larutan NaOH yang tidak berwarna. Natrium bergerak-gerak di permukaan karena ditekan oleh hydrogen dari segala arah. Apabila natrium terebak pada pinggir wadah, maka hydrogen bisa terbakar dan menghasilkan nyala berwarna oranye. Warna ini ditimbulkan oleh kontaminasi nyala biru hydrogen oleh senyawa-senyawa Natrium.

Pada reaksi logam Kalium dengan air, Kalium melebur dan membentuk larutan KOH. Panas yang dihasilkan oleh reaksi ini lebih cepat dibanding reaksi Natrium dengan air dan cukup untuk membakar Hidrogen.Nyala Hidrogen yang normalnya biru akan terkontaminasi oleh senyawa-senyawa Kalium sehingga berubah menjadi pink kebiru-biruan.

Rubidium mempunyai berat jenis yang lebih berat daipada air (1.532 g/cm3) sehingga akan tenggelam dalam air. Logam ini bereaksi hebat dengan air secara spontan. Bahkan terjadi penyemburan komponen larutan dari dasar wadah. Reaksi  ini menghasilkan larutan RbOH dan gas Hidrogen.

Reaksi antara Cesium dengan air sangat hebat, bahkan Cesium akan meledak saat bersentuhan dengan air sehingga dapat memecahkan wadah. Reaksi ini menghasilkan CsOH dan gas Hidrogen.

 

  1. Reaksi dengan Oksigen

Reaksi antara logam-logam alkali dengan Oksigen menghasilkan oksida (M2O), peroksida (M2O2), dan superoksida (MO2). Pada setengah unsur terbawah golongan I Adihasilkan oksida yang berbeda karena ion logam cukup besar sehingga kepadatan muatannya rendah. Ini menyebabkan lebih banyak energi yang dilepaskan  dan senyawa yang terbentuk akan stabil dari sisi energi. Sedangkan pada Litium, Natrium, dan Kalium, ion-ion logamnya kecil dan kepadatan muatannya besar sehingga cenderung mempolarisasikan ion-ion oksida yang lebih kompleks dampai menjadi terurai.

Litium akan terbakar dengan nyala merah terang jika dipanaskan di udara. Logam ini bereaksi dengan oksigen di udara menghasilkan Litium Oksida yang berwarna putih.

4 Li(s) + O2(g) 2 Li2O

Natrium akan terbakar oleh oksigen dalam udara membentuk campuran padatan Natrium Oksida dan Natrium Peroksida. Reaksi ini ditandai dengan terbentuknya nyala oranye.

 

 

Kalium akan terbakar oleh oksigen dalam udara membentuk Kalium Peroksida dan superoksida. Reaksi ini ditandai dengan terbentuknya nyala pin kebiru-biruan.

 

 

Rubidium dan Cesium terbakar di udara menghasilkan superoksida, yaitu RbO2 dan CsO2.

Rb(s) + O2(g) RbO2

Cs(s) + O2(g)CsO2

 

  1. Reaksi dengan unsur atau senyawa non logam

Logam-logam alkali mudah bereaksi dengan beberapa unsur non logam seperti Sulfur, fosfor, gas Hidrogen, dan gas Nitrogen. Pada reaksi logam alkali dengan sulfur akan terbentuk garam sulfida.

2 M + S  M2S

Reaksi antara logam alkali dengan Fosfor:

3 M + P  M3P

Pada reaksi logam alkali dengan golongan halogen, logam alkali sebagai reduktro dan unsur halogen bersifat sebagai oksidator. Reaksi ini menghasilkan garam halida. Contoh reaksi:

2 Na + Br2 2 NaBr

2 K + Cl2 2 KCl

Reaksi dengan gas Hidrogen (H2) akan  menghasilkan senyawa hidrida. Senyawa hidrida adalah senyawa yang mengandung atom hidrogen dengan bilangan oksidasi negatif. Contoh reaksi:

2Li + H2 2 LiH

Pada golongan logam alkali, Litium memiliki keunikan, karena merupakan satu-satunya unsur logam pada golongan I A yang bereaksi dengan Nitrogen menghasilkan Litium Nitrida.

6 Li+ N2 2 Li3N

 

  1. Reaksi logam alkali dengan asam encer

Seperti unsur-unsur logam lainnya, logam alkali bisa bereaksi dengan asam, baik itu asam lemah maupun asam kuat membentuk garam dan gas Hidrogen. Contoh reaksi:

2 Li + H2SO­4  Li2SO4 + H2

2 Na + 2 HCl   2 NaCl + H2

 

  1. Reaksi dengan Aluminium Klorida dengan pemanasan

Logam-logam alkali berada di sebelah kiri Aluminium dalam deret volta sehingga bisa bereaksi membentuk garam klorida  dan logam Aluminium. Contoh reaksi:

3 K + AlCl3 3 KCl + Al

 

  1. Reaksi dengan gas amoniak pada 4000C

2 M + 2 NH3 2 MNH3 + H2

Logam alkali larut dengan dalam amonia cair dan larutan encernya berwarna biru. Warna ini berasal dari elektron bebas yang tersolvasi oleh molekul amonia. Jadi proses pelarutan disertai dengan pemisahan atom logam menjadi ion logam alkali dan elektron tersolvasi dalam amonia, menurut persamaan:

M + n NH3 M+[e(NH3)n]

Larutan logam alkali dalam amonia bersifat konduktif dan paramagnetik.

 

  1. C.   Sifat Fisika Logam Alkali Tanah

 

Beberapa Sifat Umum Logam Alkali Tanah
Sifat Umum Be Mg Ca Sr Ba
Nomor Atom 4 12 20 38 56
Konfigurasi Elektron [He] 2s2 [Ne] 3s2 [Ar] 4s2 [Kr] 5s2 [Xe] 6s2
Titik Leleh 1553 923 1111 1041 987
Titik Didih 3043 1383 1713 1653 1913
Jari-jari Atom (Angstrom) 1.12 1.60 1.97 2.15 2.22
Jari-jari Ion (Angstrom) 0.31 0.65 0.99 1.13 1.35
Energi Ionisasi I (KJ mol-1) 900 740 590 550 500
Energi Ionisasi II (KJ mol-1) 1800 1450 1150 1060 970
Elektronegativitas 1.57 1.31 1.00 0.95 0.89
Potensial Elektroda (V) -1.85 -2.37 -2.87 -2.89 -2.90
Massa Jenis (g mL-1) 1.86 1.75 1.55 2.6 3.6

 

Pada golongan II A, Semakin ke bawah dalam golongan unsur semakin berkurang keelektronegatifannya.

Karena mempunyai dua elektron valensi yang terlibat dalam pembentukan ikatan logam menyebabkan unsur-unsur logam alkali tanah lebih keras energi kohesi lebih besar dan titik lelehnya lebih tinggi dibandingkan logam golongan IA.

Titik leleh unsur-unsur golongan alkali tanah  tidak berubah secara teratur karena mempunyai struktur kristal yang berbeda antara satu dengan lainnya.

Jika dibandingkan dengan unsur-unsur pada golongan I A, unsur-unsur golongan II A kurang reaktif. Hal ini karena unsur golongan II A mempunyai 2 elektron pada kulit terluarnya sehingga energi ionisasinya lebih besar dibandingkan unsur golongan I A yang hanya memiliki satu elektron pada kulit terluarnya. Semakin tingginya energi ionisasi, berarti cenderung lebih sulit berikatan dengan unsur lain. Urutan kereaktifan golongan alkali tanah adalah Ra > Ba > Sr > Ca > Mg > Be.

Seperti halnya  golongan logam alkali, garam-garam dari logam alkali tanah memberikan warna khas seperti pada logam alkali jika dipanaskan pada nyala api bunsen. Garam-garam Kalsium memberikan   nyala berwarna merah bata, garam-garam Stronsium memberikan nyala merah tua.

Kelarutan hidroksida logam alkali tanah dari atas ke bawah semakin bertambah. Kelarutan klorida dari Mg ke Ba semakin bertambah. Sedangkan kelarutan sulfat, nitrat, dan klorida berkurang dari atas ke bawah dalam golongan alkali tanah.

 

 

Hidroksida

 

 

ksp

 

sulfat

 

ksp

Be(OH)₂

BeSO₄

Sangat besar

 Mg(OH)₂

8,9 x

MgSO₄

10

 Ca(OH)₂

1,3 x

CaSO₄

3 x10⁻⁵

 Sr(OH)₈

3,2 x10⁻⁴

SrSO₄

7,6 x10⁻⁷

 Ba(OH)₈

5,0 x10⁻2

BaSO4

1,5 x10-9

 

Suatu senyawa ion melarut dalam air jika energi hidrasi lebih besar dari energi kisi. Energi kisi semua garam sulfat unsur alkali tanah hampir sama besar. Ion sulfat sangat besar sehingga meskipun ukuran kation berbeda tidak memberikan perbedaan energi kisi yang berarti. Perbedaan kelarutan sulfat ditentukan oleh perbedaan energi hidrasi. Dari Be2+ke Ba2+,jari-jari bertambah sehingga energi hidrasi semakin berkurang sehingga kelarutan sulfat berkurang dari BeSO4ke BaSO4. Besar dari perbedaan energi hidrasi. Dari Be(OH)2ke Ba(OH)2 energi kisi lebih cepat berkurang dari pada energi hidrasi,sehingga kelarutan hidroksida bertambah.

 

Kestabilan karbonat alkali tanah.

Sebuah ion positif yang kecil memiliki banyak muatan yang tertata dalam sebuah ruang yang bervolume kecil, khususnya jika ion tersebut memiliki lebih dari satu muatan positif. Ion ini memiliki kepadatan tinggi dan efek distorsi yang besar terhadap setiap ion negatif yang terdapat didekatnya.

Ion positif yang lebih besar memiliki muatan yang sama seperti ion positif yang kecil, hanya saja muatannya tersebar pada volume yang lebih besar. Kepadatan ion lebih rendah dan efek distorsi lebih kecil, terhadap ion negatif didekatnya.

Apabila ion karbonat didekatkan pada sebuah ion positif, maka ion positif akan menarik elektron terdelokalisasi dalam ion karbonat ke arahnya, sehingga terjadi pengkutuban (terpolarisasi) .

M2+       O-― C = O

Pemanasan MCO3akan menyebab terlepasnya CO2. Besarnya suhu yang diperlukan untuk memenaskan karbonat agarterbentuk CO2 tergantung seberapa besar polarisasi dari ion tersebut.Ion yang mengalami polarisasi tinggi membutuhkan oanas yang lebih sedikit dibandingkan jika ion hanya sedikit terpolarisasi.

Semakin kecil ion  semakin tinggi kepadatan muatan dan semakin besar efek yang ditimbulkan terhadap ion karbon dalam satu golongan, ion positif semakin besar sehingga memiliki efek yang lebih kecil terhadap ion-ion karbonat didekatnya, sebagai konsekuensinya lebih bnyak panas yang diperlukan untuk melepaskan CO2 . Semakin ke bawah golongan, senyawa karbonat semakin stabil secara termal.

 

 

Karbonisasi senyawa alkali tanah

Karbonat

Suhu dekomposisi (C˚)

BeCO3

<100

MgCO3

540

CaCO3

900

SrCO3

1290

BaCO3

1360

 

 

  1. D.   Sifat Kimia Logam Alkali Tanah

 

  1. Reaksi dengan Air.

Sifat reaksi dengan air dalam satu golongan dari atas ke bawah makin reaktif dan eksotermis seperti halnya golongan I A. Reaksi ini membentuk hidroksida logam alkali tanah dan gas Hidrogen.

Mg (s) + 2 H2O (l) → Mg(OH)2 (aq) +  H2 (g) , reaksinya lambat.

Ca (s)  + 2 H2O (l) → Ca(OH)2 (aq) +  H2 (g) , reaksi lebih cepat.

Sr (s)  +  2 H2O (l) → Sr(OH)2 (aq)  +  H2 (g) , reaksi cepat.

 

  1. Reaksi dengan Asam.

Logam alkali tanah mudah larut dalam asam, reaksi ini mengahsilkan garam dan gas Hidrogen.

Be (s)  +  HCl (aq) →  BeCl2 (aq)  +  H2 (g)

Mg (s)  +  H2SO4 (aq) →  MgSO4 (aq)  +  H2 (g)

Ca (s)  +  HBr (aq) →  CaBr2 (aq)  +  H2 (g)

 

  1. Reaksi dengan basa.

Dalam golongan unsur alkali tanah, hanya Berilium sebagai logam amphoter yang bereaksi dengan basa menurut reaksi:

Be (s)  +  NaOH (aq) → Na2BeO2 (aq)  +  H2 (g)

 

  1. Reaksi dengan Udara.

Logam alkali tanah (golongan II A) dapat bereaksi dengan Oksigen dan Nitrogen dari udara menurut persamaan reaksi:

2 M (s) + O2 (g)  → 2MO (s)

3 M (s) + N2 (g)  → M3N2 (s)

(M = Be, Mg, Ca, Sr, Ba, Ra)

 

  1. Reaksi Logam Alkali Tanah dengan Halogen.

Logam alkali tanah cenderung bersifat elektropositif (cenderung melepaskan elektron). Oleh karena itu, unsur alkali tanah mudah bereaksi dengan halogen yang cenerung bersifat elektronegatif (mudah menerima elektron). Contoh:

Mg (s) +  Br2 (g) → MgBr2 (s)

Ca (s) +  Cl2 (g) → CaCl2 (s)

 

  1. Reaksi Logam Alkali Tanah dengan gas Hidrogen.

Logam alkali tanah dapat bereaksi dengan gas Hidrogen menurut persamaan:

M (s) + H2 (g) → MH2 (s)

(M = Be, Mg, Ca, Sr, Ba, Ra)

Contoh : Ca (s)  +  H2 (g) → CaH2 (s)

 


BAB 3

SUMBER DAN CARA MEMPEROLEH LOGAM ALKALI DAN ALKALI TANAH

 

  1. A.   Sumber logam alkali

            Logam alkali tidak terdapat bebas di alam. Hal ini dikarenakan kereaktifan logam alkali yang besar sehingga mudah berikatan dengan unsur lain.

Litium ditemukan dalam keadaan selalu terkombinasi dalam unit-unit kecil pada batu-batuan berapi dan pada sumber-sumber mata air.Mineral-mineral yang mengandung Litium contohnya:lepidolite, spodumeme,petalite,danamblygonite.Di Amerika Serikat, Litium diambil dari air asin di danau Searles Lake, di negara bagian California dan Nevada. Deposit quadramene dalam jumlah besar ditemukan di California Utara. Logam ini diproduksi secara elektrolisis dari fusi klorida. Secara fisik, Litium tampak keperak-perakan, mirip Natrium dan Kalium.

Natrium banyak ditemukan di bintang-bintang. Garis D pada spektrum matahari sangat jelas. Natrium juga merupakan elemen terbanyak keempat di bumi (setelah Aluminium, Besi (Fe), dan Kalsium), terkandung sebanyak 2.6% di kerak bumi. Unsur ini merupakan unsur terbanyak dalam golongan logam alkali.Natrium dibuat secara komersil melalui elektrolisis fusi basah Natrium Klorida. Metoda ini lebih murah ketimbang mengelektrolisis Natrium Hidroksida, seperti yang pernah digunakan beberapa tahun lalu.

Kalium merupakan logam ketujuh paling banyak dan terkandung sebanyak 2.4% di dalam kerak bumi. Kebanyakan mineral Kalium tidak terlarut dalam air dan unsur kalium sangat sulit diambil dari mineral-mineral tersebut.Mineral-mineral tertentu, seperti sylvite, carnalite, langbeinite, danpolyhalite ditemukan di danau purba dan dasar laut yang membentuk deposit dimana Kalium dan garam-garamnya dengan mudah dapat diambil. Kalium ditambang di Jerman, negara bagian-negara bagian New Mexico, California, dan Utah. Deposit besar yang ditemukan pada kedalaman 3000 kaki di Saskatchewan, Kanada diharapkan menjadi tambang penting di tahun-tahun depan.Kalium juga ditemukan di samudra, tetapi dalam jumlah yang lebih sedikit ketimbang natrium.

Rubidium ternyata ditemukan lebih banyak dari yang diperkirakan beberapa tahun lalu. Sekarang ini, Rubidium dianggap sebagai elemen ke-16 yang paling banyak ditemukan di kerak bumi. Rubidium ada di pollucite, leucite dan zinnwaldite, yang terkandung sekitar 1% dan dalam bentuk oksida. Ia ditemukan di lepidolite sebanyak 1.5% dan diproduksi secara komersil dari bahan ini. Mineral-mineral Kalium, seperti yang ditemukan pada danau Searles, California, dan Kalium Klorida yang diambil dari air asin di Michigan juga mengandung Rubidium dan sukses diproduksi secara komersil. Unsur ini juga ditemukan bersamaan dengan Cesium di dalam deposit pollucite di danau Bernic, Manitoba.

Cesium merupakan logam alkali yang terdapat di lepidolite, pollucte (silikat aluminum dan Sesium basah) dan di sumber-sumber lainnya. Salah satu sumber terkaya yang mengandung Sesium terdapat di danau Bernic di Manitoba, Kanada. Deposit di danau tersebut diperkirakan mengandung 300.000 ton pollucite yang mengandung 20% Cesium. Unsur ini juga dapat diisolasi dengan cara elektrolisis fusi sianida dan dengan beberapa metoda lainnya. Cesium murni yang bebas gas dapat dipersiapkan dengan cara dekomposisi panas Cesium azida.

Fransiummuncul sebagai hasil disintegrasi unsur Actinium. Ia juga bisa dibuat secara buatan dengan membombardir Thorium dengan proton-proton. Walau Fransium secara alami dapat ditemukan di mineral-mineral uranium, kandungan unsur ini di kerak bumi mungkin hanya kurang dari satu ons.

  1. B.   Cara memperoleh logam alkali

 

Logam-logam alkali sangat stabil terhadap pemanasan, sehingga logam-logam alkali tidak dapat diperoleh dari oksidanya melalui proses pemanasan. Logam alkali tidak dapat dihasilkan dengan mereduksi oksidanya, hal ini disebabkan logam-logam alkali merupakan pereduksi yang kuat.Semua logam alkali hanya dapat diisolasi dari leburan garam halidanya melalui proses elektrolisis. Garam-garam halida mempunyai titik lebur yang sangat tinggi, oleh karena itu umumnya ditambahkan garam halida yang lain untuk menurunkan titik lebur garam halidanya.

Elektrolisis larutan dalam air tidak memperoleh logam  kecuali menggunakan katoda merkuri yang menghasilkan amalgama. Namun sukar memperoleh logam murni dari amalgama. Oleh karena itu dikembangkan altenatifnya, yaitu elektrolisis lelehan/leburan.

Sumber logam Litium adalah spodumene (LiAl(SO)3). Spodumene dipanaskan pada suhu 100 oC kemudian ditambah H2SO4 pekat panas sehingga diperoleh Li2SO4. Campuran yang terbentuk dilarutkan ke dalam air. Larutan Li2SO4 ini kemudian direaksikan dengan Na2CO3. Dari reaksi ini terbentuk endapan Li2CO3.

Li­­­2SO4(aq) +  Na2CO3(aq)  Li­­­2CO3(s) +  Na2SO4(aq)

Setelah dilakukan pemisahan Li2CO3 yang diperoleh direaksikan dengan HCl sehingga diperoleh garam LiCl.

Li­­­2CO3(s) +  2HCl(aq)  2LiCl +  H2O +  CO2

Garam LiCl ini yang akan digunakan sebagain bahan dasar elektrolisis litium. Namun karena titik lebur LiCl yang sangat tinggi sekitar 600 °C maka ditambahkan KCl dengan perbandingan volume 55% LiCl dan 45% KCl. Penambahan KCl ini bertujuan untuk menurunkan titik lebur LiCl menjadi 430 ºC. Reaksi yang terjadi pada proses elektrolisis Li adalah sebagai berikut:

 

 

Selama elektrolisis berlangsung ion Li+ dari leburan garam klorida akan bergerak menuju katoda. Ketika tiba dikatoda ion-ion litium akan mengalami reaksi reduksi menjadi padatan Li yang menempel pada permukaan katoda. Padatan yang terbentuk dapat diambil secara periodik, dicuci kemudian digunakan untuk proses selanjutnya sesuai keperluan. Sedangkan ion Cl‾ akan bergerak menuju anoda yang kemudian direduksi menjadi gas Cl2.

Natrium dapat diperoleh dari elektrolisis leburan NaCl dengan menambahkan CaCl2 menggunakan proses downs cell. Penambahan CaCl2 bertujuan menurunkan titih leleh NaCl dari 801ºC menjadi 580 ºC. Proses ini dilakukan dalam sel silinder meggunakan anoda dari grafit dan katoda dari besi atau tembaga. Selama proses elektrolisis berlangsung, ion-ion Na+ bergerak menuju katoda kemudian mengendap dan menempel pada katoda, sedangkan ion Cl‾ memebntuk gas Cl2 pada anoda. Reaksi yang terjadi pada proses elektrolisis natrium dari lelehan NaCl:

Peleburan: NaCl  Na+ + Cl‾

 

 

Kalium, Rubidium, dan Cesium tidak dapat diperoleh dengan proses elektrolis karena logam-logam yang terbentuk pada anoda akan segera larut kembali dalam larutan garam yang digunakan. Oleh sebab itu untuk memperoleh Kalium, rubidium, dan sesium dilakukan melalui metode reduksi.

 

Proses yang dilakukan untuk memperoleh ketiga logam ini serupa yaitu dengan mereaksikan lelehan garamnya dengan natrium.

Na  +  LCl  L  +  NaCl            (L= Kalium, Rubidium dan Cesium)

Dari reaksi di atas L dalam bentuk gas yang dialirkan keluar. Gas yang keluar kemudian dipadatkan dengan menurunkan tekanan atau suhu sehingga terbentuk padatan logam L. Karena jumlah produk berkurang maka reaksi akan bergeser ke arah produk. Demikian seterusnya hingga semua logam L habis bereaksi.Rubidium dapat juga diperloeh dengan cara reduksi biasa pada suhu tinggi.

Ca(s) + 2 RbCl(s) Cacl2(s) + 2 Rb(g)

 

  1. C.   Sumber logam alkali tanah

 

Di alam, logam alkali tanah terdapat murni namun dalam keadaan terikat sebagai senyawa. Kalsium dan Magnesium merupakan nsur yang penting pada kulit bumi. Logam alkali tanah terdapat sebagai endapan mineral dalam jumlah yang besar dengan berbagai komposisi.

Berilium ditemukan di dalam 30 jenis mineral, yang paling penting di antaranya adalah bertandite, beryl, chrysoberyl, dan phenacite.Beryl dan bertrandite merupakan sumber komersil yang penting untuk unsur berilium dan senyawa-senyawanya. Kebanyakan metal ini sekarang dipersiapkan dengan cara mereduksi berilium florida oleh logam magnesium. Logam berilium baru tersedia untuk industri pada tahun 1957.

Magnesium merupakan elemen terbanyak kedelepan di kerak bumi. Ia tidak muncul tersendiri, tapi selalu ditemukan dalam jumlah deposit yang banyak dalam bentukmagnesite, dolomite dan mineral-mineral lainnya.Logam ini sekarang dihasilkan di AS dengan mengelektrolisis magnesium klorida yang terfusi dari air asin, sumur, dan air laut.

 

Kalsium adalah logam metalik, unsur kelima terbanyak di kerak bumi. Unsur ini merupakan bahan baku utama dedaunan, tulang belulang, gigi dan kerang dan kulit telur. Kalsium tidak pernah ditemukan di alam tanpa terkombinasi dengan unsur lainnya. Ia banyak terdapat sebagai batu kapur, gipsum, dan fluorite. Apatite merupakanflurofosfat atau klorofosfat kalsium.

Stronsium ditemukan sebagian besar dalam bentuk celestite dan strontianite. Logam ini dapat dipersiapkan dengan cara elektrolisis klorida terfusi yang bercampur dengan kalium klorida. Atau bisa juga dengan cara mereduksi strontium oksida dengan aluminium di dalam vakum pada suhu dimana strontium tersuling. Ada tiga bentuk alotropik logam ini dengan titik transisi pada 235 dan 540 derajat Celcius.

Barium merupakan unsur metalik, lunak, dan barium murni bewarna perak keputih-putihan seperti timbal. Ia masuk golongan grup alkali dan mirip kalsium secara kimia. Logam ini teroksida dengan mudah dan harus disimpan dalam bensin atau bahan cair lainnya yang tidak mengandung oksigen. Barium terdekomposisi oleh air atau alkohol.

Radium bersifat radioaktif dan terdapat di alam bercampur dengan bijih Uranium yang disebutpitchblende yang ditemukan di Joachimsthal, Bohemia. Pasir carnotite di Colorado juga menghasilkan radium, tetapi bijih yang kaya akan unsur ini ditemukan di Congo (dulunya Republik Zaire) dan Danau Besar (Great Lake) di Kanada. Radium terkandung di dalam mineral uranium dan bisa diambil dari sisa hasil pemrosesan uranium. Deposit uranium yang besar terletak di Ontario, Kanada, negara bagian New Meksiko dan Utah di AS, dan di Australia.

 

  1. D.   Cara memperoleh logam alkali tanah

 

Pembuatan logam-logam alkali tanah pada umunya dengan cara elektrolisis leburan garam-garamnya karena logam alkali tanah cenderung bersifat reaktif (berikatan dengan unsur lain).

 

Berilium diperoleh dari elektrolisis lelehan Berilium Klorida. NaCl ditambahkan pada pelelehan sebagai elektrolit sebab BeCl2 mula-mula bersifat kovalen dan sangat sedikit menghantar listrik. Selama elektrolisis, logam kurang aktif. Berilium dihasilkan pada katoda dan Cl2 menempel pada anoda.

 

 

 

Magnesium diekstraksi dari bijih tambang dalam tanah atau dari laut. Apabila mineral dolumit diekstraksi dan pemanasan awal bijih tersebut pada temperatur tinggi (kalsinasi) yang diikuti dengan penguraian karbonat-karbonatnya membentuk oksida-oksidanya.

 

 

 

Oksida-oksida campuran direaksikan dengan air laut (yang mengandung Mg2+). Air akan mengubah oksida tersebut menjadi hidroksida-hidroksida.

 

CaO(p) + H2O  Ca2+(aq) + 2 OH-(aq)

MgO(p) + H2O  Mg(OH)2 (p)

 

Endapan Mg(OH)2 yang terkumpul kemudian disaring dan dilarutkan dalam asam klorida membentuk MgCl2.

 

Mg(OH)2 (p) + 2 HCl (aq) MgCl2 (aq) + 2 H2O

 

Apabila larutan diuapkan maka akan dihasilkan padatan MgCl2. Elektrolisis lelehan MgCl2 ini akan menghasilkan logam Mg dan gas Cl2.

 

 

 

Apabila tidak terdapat dolomit, maka logam Magnesium dapat dihasilkan dari air laut. Kadar Magnesium dalam air laut hanya 0.13%. proses pengolahan Magnesium dari air laut disebut proses Dow. Magnesium diendapkan sebagai Mg(OH)2 dengan penambahan Ca(OH)2 ke dalam air laut.

 

Mg2+  + Ca(OH)2 (s) Mg(OH)2 (s) + Ca2+

 

Kemudian Mg(OH)2 diubah menjadi larutan MgCl2 dengan cara mereaksikan dengan asam klorida.

 

Mg(OH)2 (s) + 2 HCl(aq) MgCl2 + 2 H2O

 

Pada akhirnya, MgCl2 yang terbentuk dikristalkan sebagai MgCl2.6H2O yang kemudian dielektrolisis untuk mendapatkan logam Mg. namun, proses elektrolisis mempunayi kendala karena pemanasan akan menghasilkan MgO yang sulit melebur (titik leleh: 28o0C). hal ini diatasi dengan cara penambahan MgCl2.2H2O ke dalam campuran leburan NaCl dan KCl, sehingga MgCl akan meleleh dan kehilangan air, tetapi tidak mengalami hidrolisis. Campuran leburan kemudian dielektrolisis. Magnesium akan terbentuk pada katoda.

 

 

 

 

 

 

Kalsium dapat didapatkan dengan menghidrolisis leburan garam kloridanya. Logam Ca akan terbentuk pada katoda dan terbentuk gas Cl2 pada anoda.

 

 

 

Logam Stronsium dapat dipersiapkan dengan cara elektrolisis klorida terfusi yang bercampur dengan Kalium klorida. Atau bisa juga dengan cara mereduksi Stronsium oksida dengan Aluminium di dalam vakum pada suhu dimana Stronsium tersuling.

Barium, seperti halnya Kalsium, dapat dihasilkan dari proses elektrolisis leburan garam kloridanya. Proses ini menghasilkan logam Ba dan gas Cl2.

 

 

 

Radium bersifat radioaktif dan terbentuk dari hasil peluruhan radioaktif unsur-unsur berat, misalnya peluruhan 238U. Radium umumnya didapatkan sebagai impuritis dalam pitcheblend atau dari hasil sisa pemrosesan Uranium.


BAB 4

PENGGUNAAN LOGAM ALKALI DAN ALKALI TANAH

 

  1. A.   Logam alkali

Penggunaan logam alkali cukup luas baik dalam bentuk logam bebasnya, ataupun senyawaan logam alkali.Logam-logam alkali mempunyai titik leleh yang rendah sehingga dapat digunakan sebagai medium pemindah panas pada suatu reaktor nuklir. Logam alkali mudah dilelehkan, laludialirkan melalui pipa-pipa ke pusat reaktor, dimana logam alkali menyerap panas.Selanjutnya panas tersebut ditransfer oleh alkali cair kepada bagian diluar reaktor untukmenguapkan air. Uap yang timbul kemudian dipakai untuk menjalankan generator listrik.

Logam Litium memiliki spesifikasi panas yang tertinggi di antara benda-benda padat, seringkali digunakan pada aplikasi transfer panas. Tetapi perlu diingat bahwa logam ini sangat mudah aus atau korosif dan perlu penanganan tertentu. Litium digunakan sebagai bahan campuran logam, sintesis senyawa organik dan aplikasi nuklir. Unsur ini juga digunakan sebagai bahan anoda pada baterai karena memiliki potensial elektrokimia yang tinggi. Unsur Litium digunakan pula untuk pembuatan kaca dan keramik spesial. Kaca pada teleskop di gunung Palomar mengandung litium. Bersama dengan Litium Bromida, keduanya digunakan pada sistem pendingin dan penghangat ruangan. Litium stearat digunakan untuk sebagai lubrikasi suhu tinggi. Senyawa-senyawa Litium lainnya digunakan pada sel-sel kering dan baterai. Paduan logam Litium dengan Timbal digunakan sebagai pembungkus kabel yang lunak. Sedangkan paduan litium dengan aluminium digunakan untuk menambah daya tahan korosi Aliuminium.

 

Logam natrium sangat penting dalam fabrikasi senyawa ester dan dalam persiapan senyawa-senyawa organik. Logam ini dapat di gunakan untuk memperbaiki struktur beberapa campuran logam, dan untuk memurnikan logam cair. Campuran logam natrium dan kalium, NaK, digunakan sebagai cairan pendingin pada reaktor atom. Emisi warna kuning yang cemerlang tatkala dipanaskan menyebabkan uap Natrium dipakai sebagai lampu penerangan di jalan-jalan raya atau digunakan pada lampu kabut kendaraan bermotor. Logam natrium digunakan sebagai reduktor dalam pembuatan logam Titanium dari senyawanya.

TiCl4 + 4NaTi +4NaCl

Selain itu, logam Natrium juga digunakan dalam pembuatan Tetraetiltimbal(IV).

 

 

Larutan logam alkali dalam amonia bersifat konduktif dan paramagnetik serta mempunyai daya reduksi sangat kuat, sehingga digunakan untuk reaksi reduksi khusus atau sintesis kompleks logam dan polihalida.

Senyawa-senyawa alkali lebih banyak kengunaanya jika dibandingkan dengan logam-logammurninya, sebab jumlahnya cukup berlimpah di alam, terutama garam-garam Natrium danKalium. Dibawah ini adalah beberapa contoh senyawa alkali beserta keguanaannya.

  1. NaCl, Garam dapur (garam meja); bahan baku pembuatan NaOH,Na2CO3, logam Na, dan gas klorin.
  2. NaOH, Soda kaustik; bahan utama dalam industri sabun, kertas, tekstil, pemurnian bauksit, ekstrasi senyawa-senyawa aromatik dari batubara dan pembuatan NaOCl (pengelantang).
  3. Na2CO3, Soda cuci; pelunak kesadahan air; zat pembersih (cleanser) peralatan rumahtangga; industri gelas.
  4. NaHCO3, Soda (soda kue); campuran pada minuman dalam botol (beverage) agarmenghasilkan CO2; bahan pemadam api; obat-obatan; bahan pembuat kue.
  5. NaNO3, Pupuk; bahan pembuatan senyawa nitrat yang lain
  6. NaNO2, Pembuatan zat warna (proses diazotasi); pencegahan korosi.
  7. Na2SO4, garam Glauber;obat pencahar (cuci perut); zat pengering untuk senyawaorganik.
  8. NaOCl, Zat pengelantang(bleaching) untuk kain.
  9. Na2S2O3, Larutan pencuci (´hipo´) dalam fotografi.
  10. Na3AlF6, Pelarut dalam sintesis logam Alumunium.
    1. Na-benzoat, Zat pengawet makanan dalam kaleng; obat rematik.
    2. Na-sitrat, Zat anti beku darah.
    3. Na-glutamat, Penyedap masakan (vetsin).
    4. Na-salsilat, Obat antipiretik (penurun panas).
    5. KCl, Pupuk; bahan pembuat logam kalium dan KOH.
    6. KOH, Bahan pembuat sabun mandi; elektrolit batu baterai batu alkali.
    7. KBr, Obat penenang saraf (sedative); pembuat plat potografi.
    8. KClO3, Bahan korek api, mercon, zat peledak.
    9. KIO3, Campuran garam dapur (sumber iodine bagi tubuh manusia).
    10. K2CrO4, Indikator dalam titrasi argentomeri.
    11. K2Cr2O7, Zat pengoksidasi (oksidator).
    12. KMnO4, Zat pengoksidasi; zat desinfektan.
    13. KNO3, Bahan mesiu; bahan pembuat HNO3.
    14. K-sitrat, Obat diuretik dan saluran kemih.
    15. K-hidrogentartrat, Bahan pembuat kue (serbuk tartar).

 

 

  1. B.  Logam alkali tanah

 

Berilium tembus pandang terhadap sinar X, jadi dapat digunakan dalam tabung sinar X. Selain itu, Berilium mempunyai lintang absorbsi kecil (tidak dapat menyerap neutron), sehingga dapat digunakan pada industri energi.

Dalam pembuatan pegas, kontrak listrik, dan tongkat untuk las menggunakan paduan logam Berilium dan Kalsium. Selain iru, Kalsium juga digunakan dalam aliasi untuk memperkeras timbel.

Magnesium digunakan sebagai bahan campuran untuk bahan konstruksi mobil dan pesawat terbang.

Magnalium (MG 15 %; Al 83%; Ca 2%)

Duralium (Mg 0,5%; Al 95%, Cu 4%. Mn O,5%)

Magnesium juga diugnakan untuk pembuatan pereaksi Grignard (C2H5MgBr), Bahan untuk lampu kilat, dan mercusuar. Mg dan Ca sebagai pereduksi untuk menghasilkan U, Ti, Th, flourida dan klorida.

Penggunaan Senyawa-senyawa logam alkali

  1. Untuk melekatkan batu bata, untuk membuat Ca(OH)2 dapat menggunakan CaO (kapur)
  2. Kegunaan Ca(OH)2 adalah sebagai penngolahan bahan buangan industri, menghilangkan kesadaran air Ca(OH)2, pengolahan air limbah, produksi gula, dan pembuatan adonan kapur untuk bangunan.
  3. Untuk patah tulang menggunakan plaster paris CaSO4.1/2H2O.
    1. CaSO4.2H2O  (CaSO4)2.H2O
    2. b.        CaSO4.1/2 H2O + 3/2 H2O  CaSO4.2H
    3. CaSO4.2H2O (gipsum) digunakan untuk mambuat plester dan papan plester dalam bahan bangunan.

 

  1. CaO digunakan untuk mengatur pH pada oksidasi biologis limbah untuk menghilangkan SO2 dan H2S dari gas cerobong suatu pembangkit listrik yang menggunakan bahan bekas fosil dan peleburan metalurgi
    1. a.        CaO (s) + SO2 (g) CaSO3 (s)
    2. CaO (s) + H2S (g)    CaS (s) + H2O (g)
    3. CaO untuk membuat karbid CaC2 yang merupakan sumber utama asitilena.
    4. d.        CaO (s) + 3 C (s)       CaC2 (s) + CO (g)
    5. e.        CaC2 (s) + 2H2O (l)     Ca(OH)2 (s) + C2H2 (g)
    6. MgO sebagai bola tahan api yang dipakai untuk interior tungku temperatur tinggi pabrik kertas dan obat-obatan.
    7. Mg(OH)2 dan MgCO3 digunakan sebagai antasid pada obat maag.
    8. MgSO4.7 H2O (epsom) digunakan sebagai bata tahan pupuk dan bahan obat-obatan.
    9. BaSO4 digunakan sebagai bahan pemutih pada kertas.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Aceng Haetami. “Pembelajaran Iniivatif Kimia Unsur” dalam Unhalu. Bogor: http://jurnal.unhalu.ac.id/download/aceng/PEMBELAJARAN%20INOVATIF%20KIMIA%20UNSUR.pdf. Kamis, 29 September 2011, 20.05.

 

Achmad, Hiskia dan M.S Tupamahu. 2001. Struktur Atom, Struktur Molekul, & Sistem Periodik. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.

 

Anonim. “Logam Alkali” dalam Upi. Bogor: http://kimia.upi.edu/utama/bahanajar/kuliah_web/2009/0700108/sifat%20fisik.htm. Kamis, 29 September 2011, 20.00.

 

Ismail, E. Krisnandi dan Wardan Sumarwata. 2009. Flamefotometri. Bogor: Sekolah Menengah Analis Kimia Bogor.

 

Nuryanti, Leila dan Tin Kartini. 2008. Kimia Dasar. Bogor: Sekolah Menengah Analis Kimia Bogor.

 

Ratna, dkk. “Logam Alkali dan Alkali Tanah”. Bogor: http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-smk/kelas_xi/logam-alkali-dan-alkali-tanah/. Kamis, 29 September 2011, 19.28.

 

Ta’minudin, Nina Marliana, dan Rusman. 2007. Kimia Anorganik. Bogor: Sekolah Menengah Analis Kimia Bogor.

 

 

 

Taro Saito. “Logam Golongan I” dalam chem.is.try. Bogor: http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-anorganik-universitas/kimia-logam-golongan-utama/logam-golongan-i/. Kamis, 29 September 2011, 19.25.

 

Yulianto Mohsin. “Barium” dalam chem.is.try. Bogor: http://www.chem-is-try.org/tabel_periodik/barium/. Senin, 3 Oktober 2011, 15.02.

 

Yulianto Mohsin. “Berilium” dalam chem.is.try. Bogor: http://www.chem-is-try.org/tabel_periodik/berilium/. Senin, 3 Oktober 2011, 14.56.

 

Yulianto Mohsin. “Fransium” dalam chem.is.try. Bogorhttp://www.chem-is-try.org/tabel_periodik/fransium/. Jumat, 30 September 2011, 21.31.

 

Yulianto Mohsin. “Kalium” dalam chem.is.try. Bogor: http://www.chem-is-try.org/tabel_periodik/kalium/. Jumat, 30 September 2011, 21.26.

 

Yulianto Mohsin. “Kalsium” dalam chem.is.try. Bogor: http://www.chem-is-try.org/tabel_periodik/kalsium/. Senin, 3 Oktober 2011, 14.59.

 

Yulianto Mohsin. “Litium” dalam chem.is.try. Bogor: http://www.chem-is-try.org/tabel_periodik/litium/. Jumat, 30 September 2011, 21.23.

 

Yulianto Mohsin. “Magnesium” dalam chem.is.try. Bogor: http://www.chem-is-try.org/tabel_periodik/magnesium/. Senin, 3 Oktober 2011, 14.57.

 

Yulianto Mohsin. “Natrium” dalam chem.is.try. Bogor: http://www.chem-is-try.org/tabel_periodik/natrium/. Jumat, 30 September 2011, 21.24.

 

Yulianto Mohsin. “Radium” dalam chem.is.try. Bogor: http://www.chem-is-try.org/tabel_periodik/radium/. Senin, 3 Oktober 2011, 15.03.

 

Yulianto Mohsin. “Rubidium” dalam chem.is.try. Bogor: http://www.chem-is-try.org/tabel_periodik/rubidium/. Jumat, 30 September 2011, 21.28.

 

Yulianto Mohsin. “Sesium” dalam chem.is.try. Bogor: http://www.chem-is-try.org/tabel_periodik/sesium/. Jumat, 30 September 2011, 21.29.

 

Yulianto Mohsin. “Stronsium” dalam chem.is.try. Bogor: http://www.chem-is-try.org/tabel_periodik/stronsium/. Senin, 3 Oktober 2011, 15.00.

 

 

 

 

 

 

About these ads

From → Kimia Anorganik

Tinggalkan sebuah Komentar

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: